PENDEKATAN
DALAM ORGANISASI
KHEMAS
MUHAMMAD S (35114862)
SURYA
DARMA (3A114525)
ARDIMAS
BAGUS R (31114505)
MUHAMAD
REZA (36114989)
Pendekatan-pendekatan
Dalam organisasi
BAB
I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Bagaimana kita menentukan sebuah Lembaga
Pendidikan/Sekolah telah melakukan tugasnya dengan berhasil ? Jika semua
siswanya lulus dengan predikat baik dan Halalan Toyiban, serta semua siswanya
mampu melanjutkan ke sekolah atau perguruan tinggi unggulan. Apakah hal
tersebut menyatakan kepada kita bahwa sekolah tersebut efektif ? Atau apakah
kita harus melihat kenaikan kualitas input siswa baru, jumlah siswa, atau
jumlah gaji rata-rata para guru dan karyawan?
Contoh diatas dimaksudkan untuk secara sepintas melihat
masalah yang akan dijumpai jika kita menentukan atau mengukur pendekatan /
keefektifan dalam organisasi. Pendekatan/Keeefektifan dalam
organisasi dianggap sangat penting.
RUMUSAN
MASALAH
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai :
1. Bagaimana
definisi dari efektifitas organisasi ?
2. Bagaimana
Pendekatan keefektifan organisasi ?
3. Bagaimana
perbandingan keempat pendekatan keefektifan organisasi ?
TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk membahas :
1. Definisi
dari efektifitas organisasi
2. Pendekatan-pendekatan
efektifitas organisasi
3. Perbandingan
keempat pendekatan keefektifan organisasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENDEKATAN – PENDEKATAN
DALAM ORGANISASI
Keyakinan bahwa keefektifan organisasi tidak dapat
dirumuskan karena ada perbedaan pandangan, oleh karena itu, maka pemahamannya
melalui suatu pendekatan yang sering diungkapkan dengan apa yang disebut :
Pendekatan pencapaian tujuan (goal
attainment approach)
Pendekatan pencapaian tujuan mengasumsi bahwa
organisasi adalah kesatuan yang dibuat dengan sengaja, rasional, dan mencari
tujuan. Oleh karena itu, pencapaian tujuan yang berhasil menjadi sebuah ukuran
yang tepat tentang keefektifan. Namun demikian agar pencapaian tujuan bisa
menjadi ukuran yang sah dalam mengukur keefektifan organisasi, asumsi-asumsi
lain juga harus diperhatikan :
1. organisasi
harus mempunyai tujuan akhir.
2. Tujuan-tujuan
tersebut harus diidentifikasi dan ditetapkan dengan baik agar dapat dimengerti.
3. Tujuan-tujuan
tersebut harus sedikit saja agar mudah dikelola.
4. Harus
ada consensus atau ( kesepakatan umum mengenai tujuan-tujuan tersebut),
oleh karena itu empat asumsi diatas menyatakan
bahwa keefektifan sebuah organisasi harus dinilai dengan pencapaian tujuan
ketimbang caranya.
Beberapa permasalahan dalam pendekatan ini antara
lain adalah :
1 Apa
yang dinyatakan secara resmi oleh sebuah organisasi sebagai suatu tujuan tidak
selalu mencerminkan tujuan yang sebenarnya.
2 Tujuan
jangkan pendek sering kali berbeda dengan tujuan jangka panjangnya.
3 Organisasi
yang memiliki tujuan majemuk akan menciptakan kesulitan.
Pendekatan system (system
approach)
Pendekatan system terhadap pendekatan organisasi
mengimplikasikan bahwa organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling
berhubungan. Jika salah satu sub bagian ini mempunyai performa yang buruk, maka
akan timbul dampak yang negative terhadap performa keseluruhan system.
Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang
berhasil dengan konstituensi lingkungan. Manajemen tidak boleh gagal dalam
mempertahankan hubungan yang baik dengan para pelanggan, pemasok, lembaga
pemerintahan, serikat buruh, dan konstituensi sejenis yang mempunyai kekuatan
untuk mengacaukan operasi organisasi yang stabil.
Kekurangan yang paling menonjol dari pendekatan
system adalah hubungannya dengan pengukuran dan masalah apakah cara-cara itu
memang benar-benar penting. Keunggulan akhir dari pendekatan system adalah
kemampuannya untuk diaplikasikan jika tujuan akhir sangat samara atau tidak
dapat diukur.
Dapat disimpulan bahwa organisasi terdiri sub bagian
yang saling berhubungan, oleh karena itu dinilai berdasarkan kemampuannya untuk
dan mempertahankan stabilitas dan keseimbangan.
Pendekatan stakeholders,
dikatakan efektif apabila dapat memenuhi bagi pemilik adalah laba atau
investasi, pertumbuhan penghasilan , pegawai adalah kompensasi, tunjangan
tambahan, kepuasaan pada kondisi kerja , pelanggan adalah kepuasan terhadap
harga, kualitas, pelayanan , kreditur adalah kemampuan untuk membayar hutang.
Dalam 3 (tiga) hal diatas dapat kita ambil
salah satu contoh seperti pendekatan system, dimana pendekatan system ini
sangat berpengaruh dalam organisasi yaitu sebagai berikut :
Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem memandang organisasi sebagai satu
kesatuan yang saling berinteraksi yang tak terpisahkan. Organisasi merupakan
bagian dari lingkungan eksternal dalam pengertian luas. Sebagai suatu
pendekatan sistem manajemen meliputi sistem umum dan sistem khusus serta
analisis tertutup maupun terbuka.
Pendekatan sistem umum meliputi konsep-konsep
organisasi formal dan sosiopsikologis. Analis sistem manajemen spesifik
meliputi struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi dan
mekanisme perencanaan serta pengawasan.
a. Pendekatan
Kontingensi
Pendekatan kontingensi digunakan untuk menjembatani
celah antara teori dan praktek senyatanya. Biasanya antara teori dengan praktek
berbeda, maka harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan
akan memerlukan aplikasi konsep dan teknik manajemen yang berbeda.
Pendekatan ini dipandang sebagai hubungan fungsional
“bila maka”. Hubungan fungsional yaitu keterkaitan antara variabel yang satu
dengan variabel yang lain. Bial ada perubahan satu variabel akan mempengaruhi
nilai variabel lainnya. Bila merupakan variabel bebas (independent variable)
dan maka merupakan variabel bergantung (dependent variable). Faktor lingkungan merupakan
variabel bebas, sedang konsep dan teknik manajemen merupakan variabel
begantung.
Dalam pendekatan kontingensi ada tiga kerangka
konseptual yaitu lingkungan, konsep-konsep dan teknik-teknik serta hubungan
antara keduanya. Pendekatan kontingensi mengkombinasikan antara pendekatan
klasik dan hubungan manusia.
“Contingency Approach = Pendekatan
Klasik + Pendekatan Hubungan Manusiawi”.
b. Pendekatan
Nilai – Nilai Bersaing (Competing-values
approach)
Pendekatan nilai-nilai bersaing, bertitik tolak
dengan assumsi terdapat apa yang disebut dengan fleksibilitas (mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan, perolehan sumber (mampu meningkatkan
dukungan dari luar dan memperluas jumlah tenaga kerja), perencanaan (tujuan
jelas dan dipahami dengan benar), produktifitas (volume keluaran tinggi, rasio
keluaran terhadap masukan tinggi), Ketersediaan informasi (saluran komunikasi
membantu pemberian informasi kepada orang mengenai hal-hal yang mempengaruhi
pekerjaan mereka), stabilitas (perasaan tenteram, kontinuitas, kegiatan yang
berfungsi secara lancar), Tempat kerja yang kondusif (pegawai mempercayai,
menghormati serta bekerja sama dengan yang lain), tenaga kerja terampil
(pegawai memperoleh pelatihan, mempunyai keterampilan dan berkapasitas untuk
melaksanakan pekerjaannya dengan baik).
Nilai-nilai bersaing secara nyata melangkah lebih
jauh dari pada hanya pengakuan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam.
Pendekatan tersebut mengasumsikan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam.
Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa berbagai macam pilihan tersebut dapat
dikonsolidasikan dan diorganisasi. Pendekatan nilai-nilai bersaing mengatakan
bahwa ada elemen umum yang mendasari setiap daftar criteria Efektifitas
Organisasi yang komprehensif dan bahwa elemen tersebut dapat dikombinasikan
sedemikian rupa sehingga menciptakan kumpulan dasar mengenahi nilai-nilai
bersaing. Masing-masing kumpulan tersebut lalu membentuk sebuah model
keefektifan yang unik.
Kritik Terhadap Kontingensi
Sebagaimana teori pendekatan yang lain pada organisasi dan menejemen, teori
kontingensi telah tunduk kepada sejumlah kritik atau keraguan
tentang nilai praktis dalam menejemen. Diantra para peneliti yang konsen
terhadap pendekatan kontengensi adalah Child, Dowson dan Mintzberg.
Kritik dari berbgai kesulitan dan batsan pendekatan kontingensi pada umumnya
bertumpu pada tujuh masalah pokok, yaitu :
·
Hubungan
sebab akibat.
Artinya
dalam organisasi dipengaruhi oleh sebab akibat dari hubungan struktur dan
vareabel independent, karakteristik menejer dan staf, hubungan produk dengan
konsumen atau kondisi pasar. Para menejer dimotivasi untuk membuat perubahan
kepada struktur sebagai hasil umpan balik dari informasi pada penampilan.
·
Tampilan
Organisasi
Kesesuaian
dalam organisasi dan vareabel organisasi dan vareasi situasi berhubungan dengan
pemaksimalan tampilan organisasi. Bagaimanapun, tampilan organisasi adalah
pengukuran prestasi dari terapan tampilan dalam banyak studi kontingensi belum
tepat. Dan dikatakan tidak mungkin memperoleh ukuran tunggal untuk berbgai
corak organisasi dan tampilan yang meningkat.
Di samping
kritik dan batasan teori kontingensi, ia telah menyajikan suatu pengertian yang
mendalam bagi pemahaman hubungan antar factor yang mempengaruhi struktur,
menejemen dan operasi organisasi pekerjaan. Suatu format organisasi yang sesuai
akan membantu mencegah permasalahan yang disebabkan oleh struktur yang tidak
serasi. Pendekatan kontingensi mempunyai keterkaitan dalam kaitan dengan devisi
pekerjaan dan kordinasi aktivitas. Hirarki dan devinisi tanggung jawab,
metode pekerjaan, motivasi dan komitmen staf serta gaya dan sistem
menejemen.
Konsep dasar pendekatan kontingensi membantu menejer mengembangkan suatu
pemahaman yang seksama dari situasi kompleks yang untuk mengambil suatu
keputusan atau tidakan yang sesuai. Hal itu juga menarik perhatian pada
berbagai kesulitan dengan format campuran pada organisasi, dan untuk
kepentingan struktur yang berbeda untuk situasi dan aktivitas berbeda.
Vareabel Bebas
Maksudnya vareabel yang berada di luar organisasi
dan di luar kendali anggota organisasi. Suatu organisasi besar mungkin pada
posisi untuk melatih kendali di atas aspek tertentu dari lingkungan
mereka. Organisasi mungkin dalam suatu posisi monopoli atau mempunyai
perlindungan diri sendiri dalam lingkungannya.
Berbagai Kontingensi
Pola berbeda dari factor kontingensi mempunyai
implikasi berbeda untuk desain organisasi. Organisasi mendapati berbagai
kontingensi dan potensi untuk berhubungan dengan berbagai jalan antra cakupan
dari vareabel organisasi. Perbendaan kontingensi mengakibatkan kebutuhan akan
pola struktur juga berbeda.
·
Pendekatan
Kontingensi
I. Definisi Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi merupakan sebuah cara berfikir yang komparatif (berdasarkan perbandingan) baru diantara teori-teori manajemen yang telah dikenal. Manajemen kontingensi berupaya untuk melangkah keluar dari prinsip-prinsip manajemen yang dapat diterapkan dan menuju kondisi situasional. Salah seorang penulis manajemen kontingensi yang bernama Fred Luthans menyatakan, “pendekatan-pendekatan tradisional dalam bidang manajemen, tidak salah atau keliru, tetapi dewasa ini mereka tidak terlampau cocok. Terobosan baru terhadap teori dan praktik manajemen dapat kita temukan pada pendekatan kontingensi.”
Apabila dirumuskan secara formal, pendekatan kontingensi adalah merupakan suatu upaya untuk menentukan melalui kegiatan riset, praktik, dan teknik manajerial mana yang paling cocok dan tepat dalam situasi-situasi tertentu.
Maka menurut pendekatan kontingensi situai-situasi yang berbeda mengharuskan adanya reaksi manajerial yang berbeda pula.
I. Definisi Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi merupakan sebuah cara berfikir yang komparatif (berdasarkan perbandingan) baru diantara teori-teori manajemen yang telah dikenal. Manajemen kontingensi berupaya untuk melangkah keluar dari prinsip-prinsip manajemen yang dapat diterapkan dan menuju kondisi situasional. Salah seorang penulis manajemen kontingensi yang bernama Fred Luthans menyatakan, “pendekatan-pendekatan tradisional dalam bidang manajemen, tidak salah atau keliru, tetapi dewasa ini mereka tidak terlampau cocok. Terobosan baru terhadap teori dan praktik manajemen dapat kita temukan pada pendekatan kontingensi.”
Apabila dirumuskan secara formal, pendekatan kontingensi adalah merupakan suatu upaya untuk menentukan melalui kegiatan riset, praktik, dan teknik manajerial mana yang paling cocok dan tepat dalam situasi-situasi tertentu.
Maka menurut pendekatan kontingensi situai-situasi yang berbeda mengharuskan adanya reaksi manajerial yang berbeda pula.
II. Parameter Pendekatan
Kontingensi
Pada bagian ujung dari spectrum (parameter pendekatan kontingensi) teori X dan teori Y hanya memanfaatkan dua macam faktor :
a. Pekerjaan
b. Sifat manusia sebagai parameter organisasi
Raymond A. Katzell dalam sebuah makalahnya yang berjudul “Contrasting System Work Organization”, mengemukakan adanya lima macam parameter situasional :
a. Besar kecilnya organisasi yang bersangkutan
b. Tingkat interaksi dan interpendansi para anggota organisasi
c. Kepribadian para anggota organisasi
d. Tingkat kongruensi atau disparitas antara tujuan organisasi dan tujuan para karyawan organisasi yang bersangkutan
III. Ciri-ciri Pendekatan Kontingensi
Beberapa ilmuan manajemen tertarik pada pemikiran kontingensi, hal itu karena merupakan sebuah kompromis yang dapat dimanfaatkan antara pendekatan sistematik dan apa yang dapat dinamakan perspektif situasional murni.
Pada bagian ujung dari spectrum (parameter pendekatan kontingensi) teori X dan teori Y hanya memanfaatkan dua macam faktor :
a. Pekerjaan
b. Sifat manusia sebagai parameter organisasi
Raymond A. Katzell dalam sebuah makalahnya yang berjudul “Contrasting System Work Organization”, mengemukakan adanya lima macam parameter situasional :
a. Besar kecilnya organisasi yang bersangkutan
b. Tingkat interaksi dan interpendansi para anggota organisasi
c. Kepribadian para anggota organisasi
d. Tingkat kongruensi atau disparitas antara tujuan organisasi dan tujuan para karyawan organisasi yang bersangkutan
III. Ciri-ciri Pendekatan Kontingensi
Beberapa ilmuan manajemen tertarik pada pemikiran kontingensi, hal itu karena merupakan sebuah kompromis yang dapat dimanfaatkan antara pendekatan sistematik dan apa yang dapat dinamakan perspektif situasional murni.
Perubahan Yang Direncanakan
Model kontingensi gagal untuk memberi penekanan yang
cukup kepada konsekuensi yang tidak diantisipasi dari perubahan yang
direncanakan.
SUMBER
http://arimahfuddin.blogspot.com/2013/08/makalah-pendekatan-kontingensi.html
http://frintiskarianto.blogspot.com/2014/08/pendekatan-pendekatan-dalam-organisasi.html
https://mardajie.wordpress.com/perilaku-organisasi/pendekatan-pendekatan-organisasi/
